Seskab Teddy Jawab Kritik Dino Patti Djalal: Kelebihan Biaya Kunker Ditanggung Pribadi Prabowo
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya memberikan tanggapan resmi untuk merespons kritik dan saran yang dilayangkan oleh mantan Wakil Menteri Luar Negeri dan diplomat senior, Dino Patti Djalal yang sebelumnya menyoroti tingginya frekuensi kunjungan kerja luar negeri Presiden Prabowo Subianto yang dianggap tidak lazim, menghabiskan anggaran besar, dan terkesan kurang terencana.
Melalui pernyataan resmi di akun Instagram Sekretariat Kabinet, Teddy awalnya memuji Dino sebagai diplomat hebat yang cermat, namun kemudian ia memberikan klarifikasi poin demi poin untuk meluruskan fakta:
Poin-Poin Tanggapan Seskab Teddy
1. Masalah Anggaran: Kelebihan Biaya Ditanggung Pribadi Presiden
Teddy meluruskan kekhawatiran Dino mengenai pembengkakan biaya kunjungan yang dinilai bisa mencapai ratusan miliar.
- Tanggapan: Teddy menegaskan bahwa anggaran negara tidak terbebani. Segala kelebihan biaya di luar plafon anggaran yang telah ditetapkan oleh negara sepenuhnya ditanggung menggunakan dana pribadi Presiden Prabowo.
2. Jumlah Rombongan: Sudah Dipangkas Lebih dari Separuh
Dino sempat menyinggung soal efisiensi jumlah delegasi yang dibawa ke luar negeri.
- Tanggapan: Teddy membandingkan efisiensi delegasi saat ini dengan era terdahulu (termasuk masa jabatan Dino). Menurut Teddy, jika dulu delegasi ke luar negeri bisa membawa lebih dari 120 orang, di era Presiden Prabowo jumlah rombongan dipangkas besar-besaran menjadi maksimal hanya 50 hingga 60 orang.
3. Fleksibilitas Jadwal: Menyesuaikan Dinamika Global
Merespons kritik Dino yang menyarankan agar jadwal kunjungan luar negeri ditetapkan secara ketat satu tahun sebelumnya agar tidak terkesan spontan.
- Tanggapan: Teddy menjelaskan bahwa konstelasi geopolitik dan perkembangan dunia global saat ini sangat dinamis berubah dari hari ke hari. Presiden harus responsif terhadap situasi mendesak dan tidak bisa kaku hanya mengikuti jadwal tahunan.
4. Diplomasi Bukan “Gagah-gahan” atau Seremonial
Teddy menepis anggapan bahwa lawatan luar negeri tersebut hanya bersifat seremonial kosmetik.
- Tanggapan: Menurutnya, diplomasi yang efektif membutuhkan kedekatan personal dan emosional antarpemimpin dunia. Hubungan baik harus “ditanam dan dipanen” sejak awal, bukan baru mendekat saat Indonesia sedang dilanda krisis.
Membeberkan Hasil Konkret Diplomasi Prabowo
Sebagai penutup argumennya, Teddy meminta agar pengkritik tidak mengaburkan fakta dan mengajak publik melihat deretan hasil nyata dari diplomasi luar negeri Presiden Prabowo selama 1,5 tahun terakhir, di antaranya:
- Stabilitas Domestik: Masuknya Indonesia ke blok BRICS membantu mengamankan stok pangan dan menjaga harga BBM subsidi agar tidak naik di tengah krisis global.
- Perdagangan: Keberhasilan kesepakatan tarif 0 persen dengan 25 negara Uni Eropa (melalui kelanjutan IEU-CEPA) yang mandek selama belasan tahun.
- Investasi: Masuknya komitmen investasi ke tanah air yang mencapai total Rp2.430 triliun.
- Fasilitas Haji: Negosiasi dengan Arab Saudi yang sampai melonggarkan undang-undangnya agar Indonesia bisa memiliki lahan hunian sendiri bagi jemaah haji.
- Aksi Kemanusiaan di Palestina: Keberhasilan melakukan drop-off logistik udara berkat diplomasi lintas wilayah udara, pengiriman kapal rumah sakit, hingga evakuasi pembebasan WNI.
Catatan Seskab Teddy: “Bicara diplomasi berarti bicara hasil. Manfaat nyata bagi bangsa… Kritik dan masukan itu penting, tetapi jangan mengaburkan fakta dari mereka yang sedang bekerja.”