Catatan Kegagalan Menkeu Purbaya Kendalikan Rupiah
Gejolak ekonomi belakangan ini menempatkan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, di bawah sorotan tajam. Kendati pengelolaan fiskal diklaim tetap kuat, beberapa indikator menunjukkan kegagalan nyata dalam meredam tekanan terhadap mata uang garuda.
Berikut adalah daftar rapor merah pengelolaan kebijakan yang berdampak langsung pada stabilitas rupiah:
- Rupiah Jeblok Menembus Batas Psikologis Rp18.000: Kegagalan paling kasat mata adalah ambruknya nilai tukar hingga melewati level Rp18.000 per dolar AS. Angka ini melonjak sangat jauh dari asumsi awal APBN yang dipatok pada level Rp16.500 per dolar AS.
- Ketidakberdayaan Menahan Sentimen Negatif Pasar: Kebijakan fiskal yang diambil gagal meyakinkan investor global. Pasar justru merespons dengan prediksi liar bahwa rupiah berpotensi terus merosot hingga ke angka Rp20.000 hingga Rp25.000 per dolar AS akibat kurangnya kepastian insentif penahan modal asing.
- Intervensi SBN Senilai Rp8 Triliun yang Kurang Efektif: Pemerintah terpaksa menggelontorkan dana jumbo lebih dari Rp8 triliun untuk mengintervensi pasar Surat Berharga Negara (SBN). Meski ditujukan untuk menstabilkan yield obligasi, langkah mahal ini dinilai terlambat dan belum mampu membalikkan tren pelemahan rupiah secara signifikan.
- Lemahnya Sinkronisasi Awal Kebijakan Fiskal-Moneter: Pengakuan Menkeu bahwa penguatan rupiah baru bisa dicapai jika koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) “lebih erat” menjadi bukti adanya ego sektoral atau keterlambatan koordinasi makro di masa kritis sebelumnya.
- Dampak Riil ke Sektor Riil dan UMKM: Pelemahan rupiah berujung pada lonjakan biaya produksi akibat ketergantungan bahan baku impor. Kegagalan stabilitas ini memukul langsung para pelaku usaha kecil, salah satunya pengrajin tahu dan tempe yang terhimpit mahalnya harga kedelai impor.
Ketidakmampuan menjinakkan kurs ini memicu keraguan pasar atas ketahanan fundamental ekonomi nasional di bawah kepemimpinannya.