Jenderal Polisi (Purn.) Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo adalah salah satu tokoh paling heroik dan berpengaruh dalam sejarah kepolisian Indonesia. Beliau dikenal sebagai Bapak Kepolisian Negara Republik Indonesia sekaligus Kepala Kepolisian Negara (Kapolri) pertama yang menjabat paling lama dalam sejarah, yakni dari tahun 1945 hingga 1959.
Beliau bukanlah lulusan AKPOL atau AKMIL, karena saat beliau berkarir akademi-akademi militer/kepolisian modern tersebut belum didirikan di Indonesia. Beliau merupakan lulusan sekolah hukum Rechtshoogeschool te Batavia dan menempuh pendidikan kepolisian di era kolonial Belanda (Kommissaris van Politie).
Berikut adalah profil, biodata, dan rekam jejak perjuangan beliau:
Biodata Singkat
- Nama Lengkap: Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo
- Tempat, Tanggal Lahir: Bogor, Jawa Barat, 7 Juni 1908
- Wafat: Jakarta, 24 Agustus 1993 (Dimakamkan di TPU Tanah Kusir atas permintaannya sendiri, menolak dimakamkan di TMP Kalibata agar tetap dekat dengan rakyat)
- Pendidikan Umum: Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta – tidak selesai karena masalah finansial)
- Pendidikan Kepolisian: Formatie Kursus / Pendidikan Komisaris Polisi di Sukabumi (Lulus tahun 1933)
- Penghargaan Tertinggi: Pahlawan Nasional Indonesia (Dianugerahkan oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2020)
Peletak Fondasi Korps Bhayangkara
Setelah proklamasi kemerdekaan, Presiden Soekarno menunjuk Soekanto secara langsung untuk membentuk dan memimpin kepolisian nasional pada tanggal 29 September 1945. Di tengah keterbatasan fasilitas dan situasi perang kemerdekaan, beliau berhasil membangun institusi kepolisian dari nol. Beberapa peninggalan dan fondasi penting yang beliau bangun antara lain:
- Membentuk Satuan Khusus: Beliau menginisiasi pembentukan Pasukan Reaksi Cepat (kini berkembang menjadi Brimob) dan polisi perairan/udara.
- Mendirikan Pendidikan Kepolisian: Menggagas berdirinya Akademi Polisi di Sukabumi (sekarang menjadi Akpol/Setukpa) dan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) untuk mencetak kader kepolisian yang profesional dan intelek.
- Semboyan Polri: Mengukuhkan semboyan Tri Brata dan Catur Prasetya sebagai pedoman hidup dan kerja moral setiap anggota Polri.
Karakter dan Gaya Kepemimpinan
Integritas Tanpa Kompromi Jenderal Soekanto dikenal sebagai sosok yang sangat jujur, sederhana, dan disiplin tinggi. Beliau menolak segala bentuk fasilitas mewah di luar haknya dan melarang keras keluarganya memanfaatkan posisinya sebagai Kapolri untuk keuntungan pribadi.
Independensi Kepolisian Beliau selalu menekankan bahwa polisi harus berdiri di atas semua golongan dan bebas dari pengaruh politik praktis partai mana pun. Prinsip teguh inilah yang menjaga netralitas Polri pada masa-masa awal demokrasi liberal di Indonesia.
Akhir Masa Jabatan dan Penghormatan
Masa jabatan Jenderal Soekanto berakhir pada 15 Desember 1959 menyusul pergolakan politik domestik dan reorganisasi angkatan bersenjata. Meskipun pensiun, dedikasi beliau terhadap negara tidak pernah surut melalui berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.
Nama beliau kini diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Pusat Polri (RS Polri Soekanto) di Kramat Jati, Jakarta Timur, sebagai bentuk penghormatan abadi atas jasa-jasanya dalam meletakkan batu pertama profesionalisme kepolisian di tanah air.