Ekonomi Indonesia Dalam Ancaman
Oleh: Thowaf Zuharon
Pagi itu seorang pedagang gorengan di pinggir Jalan Kalimalang tidak sedang membicarakan kurs dolar. Ia lebih sibuk menghitung berapa kilogram tepung yang harus dibeli sebelum siang. Di sebelahnya, seorang pengemudi ojek daring memesan kopi sachet dan dua pisang goreng.
Tak jauh dari sana, sebuah minimarket baru saja menerima kiriman stok susu dan air mineral. Jalanan macet seperti biasa. Truk-truk logistik bergerak dari gudang ke pasar. Para pekerja berangkat ke kantor. Mesin-mesin ekonomi yang paling sederhana tetap bekerja tanpa banyak bicara.
Namun pada saat yang sama, layar-layar ponsel dipenuhi kabar yang berbeda. Dolar Amerika menanjak. Pasar global bergejolak. Konflik geopolitik memanas. Berbagai analisis bermunculan dengan nada cemas. Seolah-olah ekonomi Indonesia sedang berdiri di tepi jurang curam.
Ekonomi Menuju Lumpuh
Di sinilah sering muncul paradoks yang menarik dalam kehidupan ekonomi modern. Apa yang dirasakan masyarakat sehari-hari tidak selalu identik dengan apa yang dibicarakan pasar keuangan. Dan apa yang tampak menakutkan di layar monitor belum tentu sama dengan apa yang terjadi di pasar tradisional, pusat distribusi, kawasan industri, atau meja kasir ritel.
Karena itu data penerimaan pajak hingga Mei 2026 layak dibaca lebih teliti. Di tengah meningkatnya kecemasan akibat pelemahan rupiah, penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan PPnBM justru mencapai Rp315,7 triliun, naik 41,3 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. PPh Badan mencapai Rp167,6 triliun atau tumbuh 23,9 persen. Sementara PPh Orang Pribadi menembus Rp123,1 triliun atau meningkat 26 persen.
Angka-angka itu mungkin tampak dingin dan birokratis. Tetapi sesungguhnya di balik setiap rupiah penerimaan pajak terdapat cerita yang sangat manusiawi.
Penerimaan PPN tidak lahir dari ruang rapat kementerian. Ia lahir ketika seorang ibu membeli susu anaknya. Ketika sebuah rumah makan menjual seporsi nasi padang. Ketika toko bangunan menjual semen. Ketika pabrik membeli bahan baku. Ketika masyarakat bertransaksi.
Dalam ilmu ekonomi, PPN sering dianggap sebagai salah satu cermin paling jujur dari aktivitas ekonomi domestik. Sebab pajak ini hanya muncul jika transaksi benar-benar terjadi. Tidak ada transaksi, tidak ada PPN. Maka ketika penerimaan PPN tumbuh lebih dari 40 persen, terdapat pesan yang sulit diabaikan: konsumsi dan aktivitas perdagangan masih berlangsung dalam skala yang besar.
Demikian pula dengan PPh Badan. Pajak ini dibayarkan dari keuntungan perusahaan. Jika laba korporasi secara agregat runtuh, penerimaannya juga akan ikut turun. Tetapi data justru menunjukkan kenaikan hampir seperempat dibanding tahun lalu.
Artinya, di balik berbagai kabar mengenai perlambatan global, banyak perusahaan Indonesia yang masih menghasilkan keuntungan, masih menjual produk, masih memutar modal, dan masih menciptakan nilai tambah ekonomi.
PPh Orang Pribadi juga menyampaikan cerita yang serupa. Di dalamnya terdapat jutaan pegawai, profesional, pedagang, dan pelaku usaha yang masih memperoleh penghasilan. Mereka tetap bekerja, menerima gaji, menjalankan usaha, dan memenuhi kewajiban perpajakan.
Semua itu membentuk satu gambaran yang menarik: ekonomi Indonesia mungkin sedang menghadapi tekanan, tetapi belum menunjukkan gejala kelumpuhan.
Dari Krisis Kepercayaan Ke Krisis Ekonomi
Dalam sejarah ekonomi, sering kali krisis besar diawali oleh runtuhnya kepercayaan. Ketika masyarakat berhenti membeli. Ketika perusahaan berhenti berinvestasi. Ketika perbankan berhenti menyalurkan kredit. Ketika negara kehilangan kemampuan mengumpulkan penerimaan.
Saat ini, data yang tersedia justru memperlihatkan hal yang berbeda. Konsumsi masih berjalan. Produksi masih berlangsung. Penerimaan negara masih tumbuh. Aktivitas ekonomi belum berhenti.
Tentu tidak berarti semua persoalan selesai. Daya beli sebagian kelompok masyarakat masih tertekan. Lapangan pekerjaan formal berkualitas belum tumbuh secepat yang diharapkan. Biaya hidup di berbagai kota terus meningkat. Pelemahan rupiah tetap membawa konsekuensi terhadap impor dan harga barang tertentu.
Namun membaca ekonomi hanya dari kurs dolar juga sama berbahayanya dengan menilai kesehatan seseorang hanya dari suhu tubuhnya. Demam memang penting diperhatikan, tetapi dokter yang baik tidak akan berhenti pada satu angka. Ia akan memeriksa tekanan darah, denyut nadi, fungsi jantung, hasil laboratorium, dan berbagai indikator lainnya.
Begitu pula ekonomi. Kurs hanyalah satu indikator. Sementara penerimaan pajak, konsumsi rumah tangga, laba korporasi, produksi industri, dan pergerakan perdagangan adalah indikator-indikator lain yang sama pentingnya.
Di tengah hiruk-pikuk kekhawatiran, data fiskal justru menghadirkan narasi yang lebih tenang. Narasi bahwa Indonesia belum berhenti bergerak. Bahwa pasar-pasar masih berdenyut. Bahwa pabrik-pabrik masih berproduksi. Bahwa jutaan orang masih bekerja setiap pagi dan pulang membawa penghasilan untuk keluarganya.
Mungkin itulah sebabnya ekonomi sering kali lebih mirip kehidupan sehari-hari daripada headline berita. Ia tidak tumbuh dari kecemasan di media sosial, melainkan dari warung yang membuka lapak sebelum matahari terbit, dari nelayan yang melaut, dari petani yang menanam, dari pengusaha yang membayar gaji karyawan tepat waktu, dan dari masyarakat yang tetap percaya bahwa hari esok masih layak diperjuangkan.
Ketika rupiah gelisah, kehidupan ekonomi di tingkat akar rumput ternyata masih menyampaikan pesan yang berbeda. Pesan yang sederhana, tetapi penting: roda ekonomi Indonesia masih berputar. Dan selama roda itu terus bergerak, angka-angka penerimaan pajak akan terus menjadi saksi bahwa di balik segala kegelisahan, ada kekuatan yang bekerja diam-diam menjaga negeri ini tetap berjalan.