JAKARTA – Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Fahri Hamzah, memberikan ulasan mendalam mengenai arah kebijakan ekonomi pemerintahan di bawah Presiden Prabowo Subianto.
Melalui postingan terbaru di instagram pribadinya yang bertajuk “MBG dan Cita-Cita Prabowonomics“, politisi Partai Gelora ini menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar program bantuan sosial biasa, melainkan pilar fundamental dalam transformasi ekonomi nasional.
Fahri mengkritik pandangan para pengamat liberal yang menilai urusan makan rakyat bukan kewajiban negara, melainkan urusan pasar. Menurutnya, Indonesia menganut kearifan Timur dan mandat konstitusi Pasal 33 UUD 1945, di mana sebuah bangsa diukur dari kesejahteraan di meja makan rakyatnya.
Ia memaparkan tiga alasan utama mengapa MBG menjadi motor penggerak ekonomi dalam ekosistem Prabowonomics. Pertama, program ini menciptakan kemandirian pangan karena wajib menyerap bahan baku dari petani, peternak, dan nelayan lokal, sehingga roda ekonomi berputar di pedesaan.
Kedua, MBG membuka jutaan lapangan kerja baru melalui ekosistem dapur komunitas (central kitchen), tenaga masak, hingga logistik. Ketiga, program ini merupakan investasi jangka panjang untuk memotong mata rantai stunting demi mencetak SDM unggul.
Lebih lanjut, Fahri mengungkapkan bahwa gagasan ini lahir dari keresahan mendalam Prabowo Subianto yang dituangkan dalam buku Paradoks Indonesia.
Sebagai seorang prajurit, Prabowo disebut tidak bisa tenang melihat paradoks negeri yang kaya raya, namun masih ada anak-anak yang pergi sekolah dengan perut kosong.
Terkait langkah presiden melakukan evaluasi struktural, termasuk pergantian pimpinan Badan Gizi Nasional pada Juni 2026, Fahri meminta publik melihatnya secara jernih.
Menurutnya, hal itu bukan drama politik, melainkan bukti ketegasan seorang pemimpin yang menolak membiarkan jarak antara visi dan realisasi birokrasi melebar tanpa koreksi. MBG adalah langkah konkret menuju Indonesia Emas yang dibangun dari bawah.